Sabtu, 27 November 2010

Cabang – Cabang Keimanan

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, "Iman itu memiliki tujuh puluh sekian cabang. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang dari keimanan."
Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Iman itu tujuh puluh sekian cabang, atau enam puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan La Ilaha Ilallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan, sedangkan rasa malu adalah salah satu cabang dari keimanan."
Dan dari Imran bin Hushain, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Rasa malu itu tidak datang melainkan (dengan) kebaikan." (HR. Muslim)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits-hadits di atas, diantaranya adalah sebagai
berikut
1. Iman memiliki cabang-cabang dan tingkatan-tingkatan.
Dalam hadits riwayat lainnya dikatakan bahwa iman memiliki 73 cabang. Dan salah satu cabang Iman adalah al-haya' (rasa malu). Rasa malu adalah malu untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran Islam, bukan malu dalam pengertian malu berdiri di depan umum, malu ketika dihadapan banyak orang, dsb. Namun malu adalah keinginan yang kuat untuk melakukan kebaikan, serta tidak suka apabila ia melakukan perbuatan yang tercela. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW jika beliau melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita dapat melihat itu nampak di wajahnya.”
(Muttafaqun Alaih)
2. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa keimanan itu diimplementasikan dalam bentuk (amalan), yang bersumber dari keyakinan kepada Allah SWT.
Iman bukan sekedar keyakinan yang ada dalam diri seseorang. Karena syaitan dan iblis sangat yakin dengan keberadaan Allah SWT. Namun mereka tidak beramal untuk mengimplementasikan keimanannnya, sebaliknya
mereka beramal untuk mendapatkan kemurkaan Allah SWT. Dan rasa malu merupakan implementasi dari keimanan dan keyakinan seorang hamba kepada Allah SWT.
3. Malu itu ada yang positif dan ada pula malu yang negatif.
Malu melakukan suatu kemungkaran dan perbuatan maksiat atau larangan agama merupakan sikap malu yang terpuji dan sangat baik. Akan tetapi malu dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, misalnya malu melaksanakan shalat fardhu berjamaah di masjid, kerana khawatir dikatakan sok suci atau sok alim, malu kalau membaca Al-Qur'an, malu kalau menolak berjabatan tangan dengan lawan jenis, malu jika tidak menerima risywah, dsb, semuanya itu adalah sifat malu yang tercela dan tidak ada kebaikannya sama sekali. Justru rasa malu melakukan hal-hal yang mungkar, merupakan malu yang terlahir dari keimanan kepada Allah SWT.
4. Tingkatan iman yang tertinggi adalah ucapan "La Ilaha Illallah" serta tingkatan iman yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan. Oleh karenanya, janganlah kita menganggap remeh suatu perbuatan baikpun, meskipun hanya menyingkirkan duri dari jalanan. Menyingkirkan duri dari jalanan tidak hanya berarti duri yang ada di jalanan. Namun bisa juga berarti memudahkan jalan, urusan dan pekerjaan orang lain, serta termasuk juga di dalamnya memudahkan urusan para nasabah yang membutuhkan uluran tangan kita semua.
5. Sikap malu merupakan sikap yang sangat baik dan perlu dipelihara, baik dalam skala individu, keluarga, sosial, bahkan dalam skala Negara.
Karena rasa malu tidak akan datang, kecuali akan mendatangkan kebaikan. Sementara apabila rasa malu telah hilang, akan mendatangkan keburukan. Diantara bentuk dari sikap malu adalah seperti senantiasa jujur, amanah, tulus dan ikhlas, senang membantu orang, disiplin, rajin dan taat beribadah, tidak membicarakan keburukan orang lain, sabar, makan dan minum dengan tangan kanan dan tidak berdiri, menghindari tempat-tempat maksiat, dan senantiasa pasrah kepada Allah SWT.


Wallahu A'lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Sekretaris Dewan Pengawas Syariah Takaful Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar