adalah aktivitas terpenting dalam amal Islam
Ia meliputi ta’rif (penyebaran ide Islam),
diikuti takwin (pembentukan kerja yang terorganisir)
dan tarbiyah (pelatihan moral, spiritual dan fisik individu dan kelompok)
Kita mengenal dua macam da’wah yaitu da’wah umum yang dilakukan dalam bentuk penyebaran Islam melalui buku, majalah, publikasi, dll. Selain itu ada yang disebut da’wah fardiyah (da’wah individual) yang tidak kalah pentingnya dibanding da’wah umum dan yang akan kita bahas lebih lanjut.
Kajian kita tentang hal ini meliputi dua aspek yaitu metode dan progresifitas da’wah fardiyah serta keuntungan da’wah fardiyah dan kualitas da’i yang melakukannya.
Metode dan langkah
Sebelum melakukan da’wah fardiyah, hal yang harus kita perhatikan terlebih dahulu, sebagai bekalan kita adalah :
- Memahami realitas umat Islam yang akan menerima da’wah kita (dalam hal ini sasaran da’wah kita adalah kaum muslimin) sehingga kita dapat mengubah realitas kehidupan mereka, dari keterbatasan pemahaman, kelemahan komitmen atau pandangan yang ekstrim menjadi pemahaman Islam yang sempurna, murni dan kuat.
- Menerangkan kesempurnaan Islam kepada objek da’wah dengan baik dan memuaskan. Dengan mempelajari dan menganalisa kondisi lingkungan tempat kita berda’wah, kita akan menemukan celah yang kita gunakan untuk mengobati kelemahan iman di hati manusia, menambah pemahaman mereka atas realitas dien ini serta dapat mensikapi kejahiliyaan budaya dan serangan pemikiran yang merupakan penyakit yang tumbuh di hati umat Islam yang jelas-jelas mempermudah musuh Allah untuk memanipulasi kebenaran dienullah atas umat Islam.
- Dalam berda’wah kita mungkin akan menemukan realitas umat yang jauh dari pemahaman Islam yang murni, lemahnya aktivitas atau produktifitas kerja dari mereka yang hatinya berpenyakit. Namun, di balik itu, kita juga mungkin mendapatkan kondisi dimana objek da’wah yang kita seru sebelumnya memiliki pemahaman yang benar, aktivitas dan kerja yang produktif, sehingga kita dapat melakukan peningkatan jiwa kepada tingkatan yang sholih
Da’wah yang dilakukan haruslah memperhatikan prioritas yang penting dan essensial untuk menghindari penyeru dan yang diseru terjebak pada keputuasaan dan penolakan. Da’wah fardiyah hendaknya dimulai dari orang yang berada dalam kondisi yang baik dan mudah menerima nilai-nilai Islam untuk menghemat waktu dan usaha.
Pendahuluan
Seorang da’i diumpamakan sebagai orang yang sedang membangunkan orang lain yang sedang tidur dan dikelilingi oleh api yang mencoba membakar dirinya. Untuk dapat memperingatkan mereka terlebih dahulu kita harus membangunkannya. Adakalanya orang yang tidur meminta untuk tidak diganggu dan meneruskan tidurnya. Karena itu seorang da’i harus bersabar dalam jalan da’wah dan juga bersabar atas perlakuan orang yang diserunya. Imam Hasan al-Banna berkata : “Jadilah kalian seperti pohon di antara manusia. Mereka melemparinya dengan batu, tetapi ia membalasnya dengan buah.”
Langkah Pertama
Membangun persahabatan dengan penerima da’wah dan membuatnya merasakan ketulusan perhatian kita kepadanya. Kita berinteraksi tanpa menyinggung isu da’wah sampai hati mereka siap menerimanya. Penerimaan mereka akan sebanding dengan perhatian dan emosi yang kita curahkan kepadanya. Pembicaraan dengan mereka mengenai da’wah akan membuat mereka berpaling. Langkah pertama ini membutuhkan waktu yang lama, mungkin beberapa pekan.
Langkah Kedua
Berusaha membangkitkan ketenangan iman di hati penerima da’wah. Pembicaraan tidak harus mengenai keimanan secara langsung, tetapi pembicaraan yang alami seolah tanpa sengaja. Kita dapat memanfaatkan moment ketika melihat burung, tanaman, serangga atau ciptaan Allah lainnya untuk membicarakan kekuasan-Nya, kebesaran-Nya dan kehendak-Nya. Dengan berdialog dan berkontemplasi atas ciptaan Allah, hati mereka akan berbunga dengan pengagungan dan teringat akan Allah sebagaimana dalam Qur’an
“Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ya tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”.
Dalam tahap ini diharapkan memahami tujuan Allah menciptakan manusia dan Allah tidak menciptakan kita dengan sia-sia. Penting juga untuk menjelaskan permasalahan ni’mat yang Allah anugerahkan kepada manusia semenjak ditiupkan-Nya kehidupan.
Pada batasan ini dialog harus berlanjut tentang topik keimanan. Ketika iman muncul, ia akan mengevaluasi kehidupannya dan akan merasa bahwa jika ia terus berada dalam kelalaian, kecenderungan terhadap dosa dan ketidakpatuhan kepada Allah, maka ia akan menghadapi hukuman keras dari Allah pada hari kiamat. Jika sudah sampai pada tahap ini, mengarahkannya pada kewajiban Islam akan lebih mudah.
Langkah Ketiga
Langkah ini berhubungan dengan bagaimana menolong penerima da’wah untuk menyadari kondisi dirinya dengan belajar mengenai ketaatan kepada Allah, kewajiban beribadah, praktek ajaran Islam, menjauhi dosa dan berakhlaq Islami. Akan lebih baik memberinya bacaan ringan seputar aqidah, ibadah dan akhlaq dan menghadiri majelis ilmu dimana ia bertemu dengan orang sholih dan menjauhi orang jahil.
Ia tidak boleh ditinggalkan terlalu lama tanpa follow up. Melakukan follow up akan membantunya untuk tetap di jalan yang lurus, dan melindunginya dari penyebab berkurangnya komitmen, kemalasan, dan sikap berlebihan. Tahapan ini mungkin berlangsung beberapa pekan atau bulan sampai terbentuk pribadi Islami yang solid dan sulit digoyahkan. Kita dapat memulai langkah keempat jika kriteria tadi sudah dipenuhi dan terdapat hubungan yang kuat antara kita dengannya serta adanya kemauan untuk berdialog lebih lanjut dan benih komitmen kepada da’wah.
Langkah Keempat
Meliputi penjelasan lengkap mengenai ibadah. Ibadah yang tidak hanya terbatas pada ibadah ritual melainkan ibadah itu meliputi seluruh aspek kehidupan. Semua aspek tersebut dapat disebut ibadah manakala dua kondisi terpenuhi yaitu niat ikhlas dan sesuai dengan perintah perintah Allah dan ajaran Islam. Misalnya kita berolah raga untuk memperkuat tubuh supaya sanggup melaksanakan tugas da’wah dan jihad di jalan Allah, tidak memakan makanan yang haram meskipun dengan tujuan membangun tenaga untuk mentaati Allah. Pada tingkatan ini aktivitas pribadi mad’u harus sejalan dengan perintah Allah. Lebih jauh lagi, ia harus memahami sifat dasar ibadah yang komprehansif.
Langkah Kelima
Menjelaskan kepada penerima da’wah bahwa Islam tidak terbatas pada komitmen individual kepada Allah, di mana seorang muslim melaksanakan kewajiban ibadah, bertingkah laku baik dan menjaga diri dari menyakiti orang lain. Tetapi Islam adalah sistem hidup kolektif yang mengatur seluruh aspek hidup mulai dari perundangan sampai politik dan jihad. Kita berkewajiban untuk menegakkan masyarakat yang berdasarkan prinsip politik, ekonomi, sosial dan perundangan yang Islami. Sampai tidak ada lagi fitnah dan seluruh agama hanyalah milik Allah semata.
Sehubungan dengan ini dialog harus dilanjutkan sampai penerima da’wah mempunyai perasaan ikut bertanggungjawab terhadap Islam dan ummatnya yang bersemayam di dalam pikirannya dan diwujudkan dalam aktivitasnya. Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang tidak peduli akan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka”.
Selanjutnya kita harus menjelaskan tentang masalah kontemporer dan penderitan yang dihadapi ummat seperti perpecahan, perusakan masjid, perkosaan, penyitaan tanah umat dan pembentukan generasi yang dijauhkan dari Islam yang mengharuskan kita untuk bekerja dengan serius untuk menegakkan khilafah setelah musuh-musuh allah menghapuskannya demi melindungi ummat dari makar-makar mereka. Kita juga harus menjelaskan bahwa menegakkan khilafah bukan tugas pemimpin ummat atau ulama’ saja. Bahkan seorang muslim akan berdosa jika ia tidak berusaha menegakkan khilafah. Dialog terus berlanjut sampai penerima da’wah berfikir serius dan praktis tentang penegakan khilafah.
Langkah Keenam
Menjelaskan bahwa penegakan khilafah (Islam) tak dapat dilakukan secara individual. Ia harus dilakukan bersama jama’ah yang mengkoordinasikan usaha individu untuk mencapai hasil yang besar. Hukum fiqih menyebutkan bahwa sesuatu kewajiban yang tidak sempurna karena satu hal, maka hal itu menjadi wajib.
Penegakan khilafah tak dapat dilaksanakan kecuali dengan berjama’ah, maka berjama’ah menjadi wajib hukumnya. Langkah ini sangat penting karena banyak muslim tidak melihat pentingnya mendirikan jama’ah atau bekerja bersama jama’ah. Menjelaskan besarnya tanggung jawab yang tak dapat dipenuhi kecuali dengan berjama’ah adalah sangat penting untuk menyakinkan penerima da’wah akan pentingnya mendirikan jama’ah, apapun resikonya. Lebih jauh lagi, penjelasan mengenai keuntungan berjamaah juga akan membantu.
Langkah Ketujuh
Langkah ini adalah meliputi pertanyaan :” dengan jama’ah/organisasi/lembaga mana seorang muslim harus melibatkan diri?” Tahapan ini penting dan kritis serta membutuhkan kebijaksanaan dan kekuatan dalam argumen dan penjelasannya.
Ada banyak jama’ah yang aktif dalam arena pergerakan Islam yang membawa panji Islam dan menyeru para pemuda untuk bergabung. Ia harus cocok dengan jalan yang ditempuh dan tidak boleh tergesa-gesa dalam memilih jama’ah. Kita harus mengetahui bahwa penegakan khilafah harus sesuai dengan jalan yang di tempuh Rasulullah saw. Beliau menegakkan pemerintahan Islam yang pertama dengan berlandaskan Aqidah yang murni. Dengan hal inilah mereka mengabdikan segenap waktu, usaha, dan napas mereka dalam menyebarkan Islam dan menghadapi segala bentuk penderitaan. Setelah itu Rasulullah mempersaudarakan mereka, mengorganisir mereka, dan mengambil sumpah dan bai’at mereka untuk senantiasa melindungi dien ini dengan seluruh milik mereka sampai tercapai kemenangan dengan rahmat Allah.
Tetapi sebelum pembentukan basis massa, ketika pendukung da’wah masih sedikit, Rasululah saw selalu menasehati pendukungnya untuk bersabar terhadap penderitaan dan tetap bertahan dalam kebenaran yang mereka yakini. Rasulullah saw tidak menyuruh mereka menghadapi kadzaliman dengan kekuatan. Jama’ah yang mengikuti jalan Rasulullah yang paling layak diikuti.
Jama’ah yang tidak menekankan aspek terbiyah dan persiapan yang berdasarkan persatuan, keyakinan dan kekuatan, maka kerja yang dilakukannya akan sia-sia, bahkan merintangi amal islami. Karenanya pembentukan struktur pemerintahan Islami harus dimulai dari dasar bukan dari atas, juga bersifat internasional karena musuh Islam juga bersifat internasional.
Kita harus memahami bahwa yang baik adalah yang mengambil Islam secara keseluruhan sebagai aqidah, ibadah, akhlaq, syariah, pemerintahan, jihad dan seluruh aspek kehidupan. Jama’ah tidak boleh hanya menekankan pada satu aspek dan mengabaikan aspek yang lain dengan alasan apapun. Jama’ah juga harus mempunyai basis horizontal diseluruh dunia untuk memfasilitasi pembentukan pemerintahan Islam internasional yang tidak dibatasi negara dan geografis. Jama’ah yang berpengalaman juga menghindari ekstrimisme, perpecahan dan kecerobohan serta selalu berada dalam jalur yang dirintis Rasulullah saw dan salafuna sholih.
Jama’ah harus bersatu dan terorganisir serta seluruh aktivitasnya terencana, bukan merupakan spontanitas dan kerja serampangan. Seseorang juga tidak seharusnya meninggalkan jama’ah yang telah teruji tadi, kecuali ia menemukan adanya kefasikan dan penyimpangan Islam didalamnya.
Nahwa Jil Muslim Ad Da’wah Ilallah Da’wah Fardiyah –tjm- 7 Tahapan Da’wah Fardiyah,
Syaikh Musthafa Masyhur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar